Kegiatan Pembanguan Potensi Desa Produk Desa

Tiga Strategi Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Oleh; Risharyudi Triwibowo
Staf Khusus Kementerian Desa, PDTT

Perlu kita ketahui bahwa dari seluruh Desa di Indonesia Belum semuanya memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dari total 74.957 desa di Indonesia, sampai akhir 2018 masih sekitar 41.000 desa atau 64 persen saja yang telah  mendirikan BUMDes. Dari 64 persen desa yang telah mendirikan BUMDes, lebih dari separuhnya masih tergolong BUMDes normatif, punya AD/ART dan modal yang disertakan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang tidak terlalu besar.

Faktor utama penyebab lambatnya progres BUMDes adalah kesadaran Kepala Desanya. Dalam banyak kasus, Kepala Desa masih enggan membentuk BUMDes karena dianggap bakal menjadi beban anggaran bagi desa. Lainnya enggan membentuk BUMDes karena dianggap bukan sebagai bagian tugas pokok dan fungsi pelayanan masyarakat. Tapi, tidak sedikit Kepala Desa yang terkendala soal keterbatasan perangkat desa dan SDM yang mampu dan paham soal fungsi ekonomi dan bisnis pedesaan.

Mengacu Permendesa No. 4 Tahun 2015. BUMDes didirikan untuk meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan ekonomi desa, termasuk meningkatkan pendapatan asli desa. Pendirian BUMDes didasari oleh potensi desa, kapasitas SDA dan SDM di desa serta inisiatif pemerintah desa tersebut. Sumber anggaran pendirian BUMDes berasal dari penyertaan modal pemerintah desa dalam bentuk pembiayaan dan kekayaan desa yang diserahkan untuk dikelola bersama (Dana Desa).

Dalam kasus di Sulawesi Tengah, bisa diakui kesadaran Kepala Desa perihal pentingnya kehadiran BUMDes ini masih sangat kurang. Menurut saya dalam penilaian selama berkeliling Sulawesi Tengah, penggunaan dana desa masih ditujukan untuk membangun infrastruktur fisik, bukan untuk mendirikan BUMDes -yang sebenarnya prioritas. Perlu kita  menegaskan tentang pengusaha-pengusaha di desa yang seharusnya mampu diberdayakan dalam BUMDes sehingga desa mendapat keuntungan secara ekonomis maupun sosial di kemudian hari.

Di Sulawesi Tengah bukan tidak ada contoh. Salah satu BUMDes disana pernah mendapat penghargaan ‘BUMDes Rintisan Berkembang’ dari Kementerian PDTT, yaitu BUMDes Cahaya Makmur di Desa Bakubakulu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Awalnya BUMDes Cahaya Makmur hanya bergerak di usaha simpan-pinjam, kemudian berkembang di usaha pembayaran listrik di PLN, jual-beli hasil pertanian, sampai penjualan tabung gas elpiji sekarang ini. Menariknya, usaha-simpan pinjam yang dijalankan BUMDes Cahaya Makmur ditujukan untuk modal usaha warga desanya

Melihat contoh kasus BUMDes Cahaya Makmur di atas, saya menekankan soal ‘3 Strategi Pengembangan BUMDes’ yang tepat.

Pertama: ketepatan BUMDes untuk memilih unit usaha ekonomi kreatif yang akan dijalankan. Unit usaha yang dikembangkan BUMDes selayaknya didasarkan pada ketersedian sumber daya alam, kemampuan sumber daya manusia serta kegiatan usaha yang berbasis kelompok. Banyak desa yang sebenarnya memiliki dasar ekonomi kreatif yang kuat, tapi tidak kunjung berkembang karena BUMDesnya salah menentukan unit usaha di awal,  dan tidak mampu melakukan manajemen usaha dengan baik. Menimbang realitas di Sulawesi Tengah bahwa komoditas unggulannya adalah hasil pertanian dan perkebunan. Alangkah bijak untuk mengembangkan unit usaha ekonomi kreatif berbasis coklat, kelapa atau cengkeh.

Kedua: kemampuan Desa menginvestasikan penyertaan modal BUMDes yang bersumber dari dana desa. Lebih lanjut, investasi yang sesuai program-program ekonomi desa akan meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Kita bisa mengambil contoh program Embung Desa yang berfungsi sebagai saluran irigasi tersier bagi masyarakat desa.

Ketiga: kemampuan BUMDes untuk menyelaraskan dan mengintegrasikan usahanya dengan program pemberdayaan masyarakat desa. Logikanya, jika masyarakat desa mampu diberdayakan, maka BUMDes akan maju usahanya. Dalam konteks ini saya menyoroti pentingnya membangun sarana dan prasarana tempat masyarakat desa mengaktualisasikan dirinya lewat seni atau olahraga. Akan lebih baik pemuda-pemuda di desa berekspresi dan beraktualisasi di lapangan sepak bola atau studio musik, sehingga kreativitas mereka berkembang, daripada terjerumus kedalam narkotika, minuman keras dan hal-hal negatif lain.

Pada akhirnya, 3 strategi ini tidak bisa berjalan jika tidak ada political will, kemauan dan kesadaran dari Kepala Desa dan perangkatnya. Kita akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada Kepala Desa dan perangkatnya, hal ini sesuai dengan tugas saya nanti ketika Insya Allah terpilih menjadi Anggota DPR RI dari Sulawesi Tengah.