Daerah Potensi Desa Publikasi

Desa Bendungan Dua Kali Sabet Eco Village Award

Inovasi desa menjadi kunci keberhasilan dan efektivitas dari pelaksanaan program dana desa. Inovasi desa bisa meningkatkan ekonomi sesuai dengan potensi desanya masing-masing.

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (22/3).

Mengenai jenis inovasi, berdasarkan data yang paling banyak yakni di bidang kewirausahaan yaitu 18.380 inovasi. Menyusul bidang infrastruktur sebanyak 14.166 inovasi dan SDM sebanyak 11.527 inovasi.

“Kita memiki inovasi dari seluruh penjuru desa. Hasil dari inovasi tersebut didokumentasikan baik dalam bentuk dokumen tertulis maupun video  agar bisa diikuti dan dikembangkan oleh masyarakat dari desa lain di Indonesia,” kata Eko.

Di Desa Bendungan, inovasi desa dilakukan dengan melestarikan lingkungan. Memanfaatkan aliran sungai dan selokan menjadi tempat bernilai ekonomis dengan menebar benih ikan. Bahkan, Desa Bendungan diakui menjadi ikon inovasi desa di Jawa Barat.

“Keramba ikan yang memanfaatkan aliran sungai dan selokan di Desa Bendungan menjadi program unggulan inovasi desa di Ciawi, Bogor bahkan ditingkat provinsi Jawa Barat. Tentu pemerintah setempat sangat mendukung program inovasi desa seperti ini dan bisa dikembangkan oleh desa lainnya,” kata Kepala Sie Pemerintahan Kecamatan Ciawi, Bogor, Bambang Rusantono.

Saat mengunjungi Kampung Naringgul Ciasin, Desa Bendungan, kita akan berdecak kagum. Lantaran, selokan yang biasanya terkesan bau, kotor dan kumuh, berubah menjadi tempat yang enak dilihat.

Kita akan melihat ragam ikan air tawar dibudidayakan di selokan. Ini adalah upaya warga Desa Bendungan untuk menjadikan selokan menjadi tempat yang lebih bermanfaat.

Seluruh selokan irigasi di Ciasin yang mengalir dijadikan tempat untuk budi daya ikan air tawar. Seperti ikan emas dan ikan nila yang dibudidayakan oleh Ecovillage Bendungan Asri Ramah Berbudaya Lingkungan (Baraya).

Ketua Ecovillage Baraya, Irfah Satiri mengatakan, budidaya ikan sambil memelihara kebersihan sungai ini dimulai sejak tahun 2016 dan sejak itu kampung Ciasin, Desa Bendungan sudah dua kali mendapat penghargaan Ecovillage Award dari Provinsi Jawa Barat.

“Awalnya saya hanya berniat lingkungan itu menjadi bersih dari sampah. Kemudian dilanjutkan dengan memberdayakan selokan menjadi keramba ikan yang menguntungkan,” kata Irfah, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.

Ia juga menuturkan bahwa ikan-ikan berjenis ikan mas dan nila yang ditanam itu menjadi tontonan warga setiap harinya. Ikan juga kerap dipanen warga setiap 3 bulan sekali sehingga bisa membantu perekonomian.

Ecovillage Baraya mencari model kolam pemeliharaan ikan yang bisa diterapkan. Untuk awalnya, mereka hanya menggunakan selokan sepanjang 30 meter untuk model karamba terbuka yang dilengkapi dengan pembatas sekat besi. Sebanyak 2,5 kuintal bibit ikan ditebar di situ.

Masyarakat yang tadinya hanya menjadi penonton pun beramai-ramai ikut memanfaatkan selokan. Perlahan, luasan selokan yang dimanfaatkan untuk kolam pun bertambah.

Masyarakat dibebaskan untuk menanam ikan. Syaratnya, mereka harus turut menjaga lingkungan dan membersihkan sampah. Kini kolam itu telah mencapai panjang 300 meter dengan 40 buah sekat yang dipelihara oleh 44 KK. (my)

sumber: radartasikmalaya.com

About the author

root

Add Comment

Click here to post a comment