Kajian Kegiatan Pembanguan Publikasi

Dana Desa sebagai Stimulus Ekonomi Kerakyatan

Salah satu tujuan Dana Desa adalah sebagai stimulus untuk menggairahkan ekonomi kerakyatan di perdesaan. Oleh karena itu, Dana Desa semestinya digunakan untuk membangun infrastruktur desa dan mendorong usaha produktif desa guna menciptakan produk bernilai tambah.

Pengamat ekonomi kerakyatan UGM Yogyakarta, Fahmy Radhi, mengemukakan pembangunan infrastruktur desa harus melibatkan masyarakat desa sehingga Dana Desa memberikan efek domino pada perekonomian desa. “Pembangunan infrastruktur desa, jalan, jembatan, waduk, dan pencetakan sawah diupayakan agar dilakukan oleh kontraktor desa dan melibatkan tenaga kerja desa setempat,” papar dia, di Jakarta, Minggu (21/4).

Selain itu, lanjut Fahmy, Dana Desa harus dapat meningkatkan produktivitas petani dan mendorong petani memperoleh akses pasar yang lebih luas, sehingga tidak hanya bergantung pada tengkulak. Kehadiran tengkulak selama ini dinilai menutup akses petani pangan untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar.

“Dana Desa juga harus dimanfaatkan untuk mendirikan lembaga keuangan desa guna membiayai usaha produktif desa dalam menciptakan nilai tambah ekonomi kerakyatan,” imbuh Fahmy.

Sebelumnya, ekonom Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Y Sri Susilo, menilai salah satu program yang perlu menjadi fokus pemerintahan Joko Widodo lima tahun ke depan adalah pembangunan ekonomi kerakyatan secara nyata dan komprehensif, terutama melalui Dana Desa. Untuk itu, pemerintah harus memastikan bahwa Dana Desa benar-benar diterima dan bisa dikelola secara optimal oleh rakyat.

Menurut Susilo, Dana Desa harus menjadi permodalan yang produktif untuk membangun ekonomi kerakyatan di perdesaan. Akan tetapi, dia mengingatkan apabila penyaluran dana tersebut dipecah-pecah maka akan habis untuk kegiatan konsumtif.

Sebaliknya, lanjut Susilo, jika Dana Desa dikumpulkan dari kelompok yang terdiri atas sejumlah desa, akan menjadi investasi atau permodalan yang bisa menjadi penghasilan berkelanjutan. Guru Besar Pertanian UGM, Masyhuri, mengungkapkan problem desa yang utama adalah infrastruktur pertanian, jalan, dan teknologi desa.

Ketiga masalah itu mesti sudah diatasi secepatnya sehingga segera memasuki tahap selanjutnya, yakni peningkatan produksi dan hilirisasi produk. Untuk meningkatkan produksi skala kecil pertanian desa mesti dikonsolidasikan, misalnya melalui koperasi desa.

“Nah, yang bisa segera diajak lari untuk jadi contoh nasional adalah sawit dan cokelat. Hilirisasi kedua produk itu bisa segera digenjot karena memang skala rakyatnya sudah lumayan luas,” papar Masyhuri.

(my)

 

 

 

sumber: desamembangun.com